Aliran psikologi
humanistime sangat terkenal dengan konsepsi bahwa esensinya manusia itu baik menjadi
dasar keyakinan dan mengajari sisi kemanusiaan. Psikologi humanistik utamanya didasari
atas atau merupakan realisasi dari psikologi
eksistensial dan pemahaman akan keberadaan dan tanggung jawab sosial seseorang.
Psikologi humanistik adalah perspektif psikologis yang menekankan studi tentang
seseorang secara utuh. Psikolog humanistik melihat perilaku manusia tidak hanya
melalui penglihatan pengamat, malainkan juga melalui pengamatan atas perilaku individu
mengintegral dengan perasaan batin dan citra dirinya.
Studi
psikologi humanistik melihat manusia, pemahaman, dan pengalaman dalam diri manusia,
termasuk dalam kerangka belajar dan belajar. Mereka menekankan karakteristik
yang dimiliki oleh makhluk manusia seutuhnya seperti cinta, kesedihan, peduli,
dan harga diri. Psikolog humanistik mempelajari bagaimana orang-orang
dipengaruhi oleh persepsi dan makna yang melekat pada pengalaman pribadi mereka.
Aliran ini menekankan pada pilihan kesadaran, respon terhadap kebutuhan
internal, dan keadaan saat ini yang menjadi sangat penting dalam membentuk perilaku
manusia.
Pendekatan
pengajaran humanistik didasarkan pada premis bahwa siswa telah memiliki kebutuhan
untuk menjadi orang dewasa yang mampu mengaktualisasi diri, sebuah istilah yang
digunakan oleh Maslow (1954). Aktualisasi diri orang dewasa yang mandiri,
percaya diri, realistis tentang tujuan dirinya, dan fleksibel. Mereka mampu menerima
dirinya sendiri, perasaan mereka, dan lain-lain di sekitarnya. Untuk menjadi dewasa
dengan aktualisasi dirinya, siswa perlu ruang kelas yang bebas yang
memungkinkan mereka menjadi kreatif.
Tujuan dasar pendidikan humanistik adalah
mendorong siswa menjadi mandiri dan independen, mengambil tanggung jawab untuk pembelajaran
mereka, menjadi kreatif dan tertarik dengan seni, dan menjadi ingin tahu tentang
dunia di sekitar mereka. Sejalan dengan itu, prinsip-prinsip pendidikan humanistik
disajikan sebagai berikut.Siswa harus dapat memilih apa yang
mereka ingin pelajari. Guru humanistik percaya bahwa siswa akan termotivasi untuk
mengkaji materi bahan ajar jika terkait dengan kebutuhan dan keinginannya.
Tujuan pendidikan harus mendorong keinginan siswa untuk belajar dan mengajar mereka tentang cara belajar. Siswa harus memotivasi dan merangsang diri pribadi untuk belajar sendiri. Pendidik humanistik percaya bahwa nilai tidak relavan dan hanya evaluasi diri (selfevaluation) yang bermakna. Pemeringkatan mendorong siswa belajar untuk mencapai tingkat tertentu, bukan untuk kepuasan pribadi. Selain itu, pendidik humanistik menentang tes objektif, karena mereka menguji kemampuan siswa untuk menghafal dan tidak memberikan umpan balik pendidikan yang cukup kepada guru dan siswa.
Pendidik humanistik percaya bahwa, baik perasaan maupun pengetahuan, sangat penting dalam proses belajar dan tidak memisahkan domain kognitif dan afektif. Pendidik humanistik menekankan perlunya siswa terhindar dari tekanan lingkunngan, sehingga mereka akan merasa aman untuk belajar. Setelah siswa merasa aman, belajar mereka menjadi lebih mudah dan lebih bermakna.
Tujuan pendidikan harus mendorong keinginan siswa untuk belajar dan mengajar mereka tentang cara belajar. Siswa harus memotivasi dan merangsang diri pribadi untuk belajar sendiri. Pendidik humanistik percaya bahwa nilai tidak relavan dan hanya evaluasi diri (selfevaluation) yang bermakna. Pemeringkatan mendorong siswa belajar untuk mencapai tingkat tertentu, bukan untuk kepuasan pribadi. Selain itu, pendidik humanistik menentang tes objektif, karena mereka menguji kemampuan siswa untuk menghafal dan tidak memberikan umpan balik pendidikan yang cukup kepada guru dan siswa.
Pendidik humanistik percaya bahwa, baik perasaan maupun pengetahuan, sangat penting dalam proses belajar dan tidak memisahkan domain kognitif dan afektif. Pendidik humanistik menekankan perlunya siswa terhindar dari tekanan lingkunngan, sehingga mereka akan merasa aman untuk belajar. Setelah siswa merasa aman, belajar mereka menjadi lebih mudah dan lebih bermakna.
Tokoh-Tokoh
Teori Humanistik
1. Arthur Combs
Untuk
mengerti tingkah laku manusia, yang penting adalah mengerti bagaimana dunia ini
dilihat dari sudut pandangnya. Pernyataan ini adalah salah satu dari pandangan humanistik
mengenai perasaan, persepsi, kepercayaan, dan tujuan tingkah laku inner
(daridalam) yang membuat orang berbeda dengan orang lain. untuk mengerti orang
lain, yang terpenting adalah melihat dunia sebagai yang dia lihat, dan untuk menentukan
bagaimana orang berpikir, merasa tentang dia atau dunianya. (Djiwandono, 2002:
182)
2. Abraham H. Maslow
Maslow
berpendapat bahwa ada hierarki kebutuhan manusia. Kebutuhan dari tingkat yang
lebih rendah yaitu tingkat untuk bisa survive
atau mempertahankan hidup dan rasa aman, dan ini adalah kebutuhan yang
paling penting. Tetapi jika secara fisik manusia secara fisik terpenuhi kebutuhannya
dan merasaaman, mereka akan distimuli untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi,
yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dicintai dan kebutuhan akan harga diri dalam
kelompok mereka sendiri. Jika kebutuhan ini telah terpenuhi orang akan kembali mencari
kebutuhan yang lebih tinggi lagi, prestasi intelektual, penghargaan estetis,
dan akhirnya self-actualization.
Teori
Maslow didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal:
- Suatu
usaha yang positif untuk berkembang.
- Kekuatan
untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
3. Carl. Rogers
Rogers
menganjurkan pendekatan pendidikan sebaiknya mencoba membuat belajar dan mengajar
lebih manusiawi, lebih personal dan berarti. Lebih khusus dalam bidang pendidikan,
Rogers mengutarakan pendapat tentang prinsip-prinsip belajar yang humanistik
yang diidentifikasikan sebagai sentral dari filsafat pendidikannya, yakni:
- Manusia
itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
- Belajar
yang signifikan terjadi apabila materi pelajaran dirasakan murid mempunyai
relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
- Belajar
yang menyangkut perubahan di dalam persepsi mengenai dirinya sendiri diangap
mengancam dan cenderung untuk ditolaknya.
- Tugas-tugas
belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan
apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
- Apabila
ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai
cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
- Belajar
yang bermakna diperoleh siswa dengan melakukannya. Belajar diperlancar bila
manasiswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut bertanggung jawab terhadap
proses belajar itu.
- Belajar
inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik perasaan maupun
intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
- Kepercayaan
terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama
jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian
dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
- Belajar yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya kedalam diri sendiri mengenai proses perubahan itu.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar